Sesekali... Tika aku menoleh ke jurang dalam, nafasku sesak. Teringat aku kepada mimpi-mimpi lalu. Igauan yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Membelenggu hidupku sepanjang masa. Menjadikan aku terlalu curiga. Kenangan yang suatu ketika buatkan aku begitu terhimpit oleh kehinaan yang aku sendiri tidak pasti di mana hadirnya.
Semalam, ketika aku berjalan di pinggir hutan. Aku temui sekuntum orkid jingga mekar sangat indah. Bagai tersenyum sedang memandangku. Aku leka memerhati. Aku tertarik. Lalu aku berfikir, apa bisa aku miliki orkid itu atau ia sekadar untuk aku pandang dengan perasaan teruja. Aku berlalu seketika.
Hanya beberapa langkah, hatiku kembali gusar. Terasa rugu jika aku tinggalkan orkid itu tanpa aku nikmati keindahannya. Lalu aku mengundur semula. Menghampiri orkid tadi dan menyentuh lembut. Rasanya segar. Sesegar mataku yang memandang.
Aku mendongak seketika ke daun awan. Mencari-cari jika ada kilauan rona-rona aneh. Tiada. Kotak fikirku tertancap kepada seekor monyet yang sedang bergayutan di dahan leban yang tinggi melangit. Lalu aku memandang orkid semula. Orkid itu seperti sudah hampir pasti menjadi milik aku. Namun monyet juga masih menanti. Aku keliru. Perlukah aku memetik orkid untuk diriku, atau kubiarkan saja untuk dipetik monyet rimba itu.
Ketika aku hampir memetik orkid, tiba-tiba hujan turun. Aku hairan. Kenapa tadi, ketika aku mendongak, langsung tiada kepulan awan hitam? aku benar2 keliru. Aku berteduh di bawah dedaun pisang hutan yang tumbuh kurus di pinggir belantara. Menanti hujan reda. Mahu petik orkid jingga.
Dalam hujan yang masih lebat, aku pandang orkid tadi. Aku lihat dia seperti sedang tersenyum untukku. Aku perhatikan lagi. Lalu aku nampak dia juga sedang mengukirkan senyum yang sama kepada monyet itu. Aku bertambah keliru. Aku atau monyet itu yang memiliki orkid jingga. Jika aku, pasti dia hanya akan tersenyum padaku. Namun dia senyum kepada kedua-duanya.
Lantas aku berfikir lagi. Mahu kutinggalkan orkid jingga itu, hatiku bimbang ia akan jadi milik monyet. Mahu aku petik, aku bimbang orkid akan layu lantara tidak selesa dengan aku. Lantara dia lebih suka bersama monyet.
Dalam kebuntuan, akhirnya aku petik juga pohon orkid berbunga jingga. Akau cuba tanam di lamanku. Dengan harapan agar ia akan berbunga lagi. Dengan impian agar bunganya nanti hanya milik aku. Aku tahu, setiap yang berlaku pasti dengan keizinan-Nya. Aku pasrah atas semuanya...
Keindahan pandangan mata tidak semestinya indah pada pandangan hati. Namun, sekurang-kurangnya ada juga keindahannya berbanding dengan sesuatu yang langsung tiada keindahan sama ada pada mata atau hati...
19 Julai, 2012
18 Julai, 2012
Satu
Debu-debu kelabu
Beterbangan bebas
Menusuk jiwa
Melakar garisan-garisan kotor
Membalut tubuh-tubuh hitam
Cecair-cecair hanyir
Membusuk dalam kuali usang
Basi dan berkulat juga berulat
Membaris noda-noda lama
Menyusun dosa-dosa silam
Tangan-tangan kematu
Membelai ruang-ruang nafsu
Merobek suci anugerah
Merentap kudus nikmat dan rahmat
Dalam perjalan mengejar kepuasan
Rintik-rintik halus gerimis pagi
Segar memutih di hujung lalang
Mengundang pilu jiwa penyair gila
Merentap sesal gelandangan berpaksi rasa
Merobek ego perindu yang rakus
Hanya satu…
Berikan segala yang ada
Kurniakan segala yang nikmat
Turunkan segala yang anugerah
Rampas apa yang dimahu
Hanya satu…
Sesal bersarang, berlabuh di sana
Nafsu bergolak berakhir di sana
Hanyir warna-warna, harum di sana
Kotor debu-debu, putih bersih di sana
Hanya satu…
Tangan-tangan kematu mati membeku
Jiwa-jiwa gila mula mengulit rasa
Cinta-cinta jahil berakhir kudus
Mimpi-mimpi khayal berkubur dalam damai
Kasturi Muhamad
19 Julai
2:26AM
Desa
Janji Cinta
Aku kutip daun-daun menghijau
Jalin jadi tali simpulan
Pengikat kasih yang setia
Penanda janji dimeterai
Aku anyam mimpi-mimpi lama
Menjadi selimut lembut buatmu
Melawan kesejukan menggigit tubuh
Membalut luka perih yang lama
Aku susun ranting-ranting
Menjadi hamparan tidurmu sayang
Bermimpikan kayangan jingga
Berpaksikan batas-batas rasa
Aku simpul akar-akar semalu
Menjadi cincin di jari manismu
Tanda aku dan kamu
Menganyam kasih dalam kudus
Aku kaut garam di lautan
Cantum jadi permata indah
Rangkai bersinar cahaya
Sebagai kalung di leher jinjangmu
Aku kumpul kelip-kelip malam
Gantung dalam kamar sepimu
Menjadi lampu-lampu pelangi
Untuk tarian di ruang rindu
Aku gumpal salju putih
Menjadi cermin menyuluh wajah
Manis senyummu kan terserlah
Dalam kotak kasih dan harapan
Kasturi Muhamad
19 Julai
1:47 AM
Desa
Jalin jadi tali simpulan
Pengikat kasih yang setia
Penanda janji dimeterai
Aku anyam mimpi-mimpi lama
Menjadi selimut lembut buatmu
Melawan kesejukan menggigit tubuh
Membalut luka perih yang lama
Aku susun ranting-ranting
Menjadi hamparan tidurmu sayang
Bermimpikan kayangan jingga
Berpaksikan batas-batas rasa
Aku simpul akar-akar semalu
Menjadi cincin di jari manismu
Tanda aku dan kamu
Menganyam kasih dalam kudus
Aku kaut garam di lautan
Cantum jadi permata indah
Rangkai bersinar cahaya
Sebagai kalung di leher jinjangmu
Aku kumpul kelip-kelip malam
Gantung dalam kamar sepimu
Menjadi lampu-lampu pelangi
Untuk tarian di ruang rindu
Aku gumpal salju putih
Menjadi cermin menyuluh wajah
Manis senyummu kan terserlah
Dalam kotak kasih dan harapan
Kasturi Muhamad
19 Julai
1:47 AM
Desa
Antara Mimpi
Ketika mimpi masih di awalnya
Lautan hati menerjah jauh ke ruang khayalan asyik
Bertapa pandangan jiwa damai bertakhta di tingkat teratas
Datangnya bersama kepulan awan-gemawan tebal
Suaranya merdu si buluh perindu bergemersik
Tumbuhnya subur… Sesubur pepohon hijau di belantara
Menghirup air dari liang-liang tanah lembab bumi Khatulistiwa
Rasanya di awangan… Bahagia bagai sedang berjalan di kayangan
Liku-liku lorong Nampak lurus, seperti tahu hala penghujungnya
Bagai ada sambutan warna-warni sesampai nanti
Seketika mimpi beralih… Masuk ke ruang sesak hanyir
Suburnya pohon tiba-tiba Nampak layu mahu mati
Liang-liang lembab tiba-tiba rasa kering tiada air
Gumpalan awan-gemawan tiba-tiba hilang tunjukkan reality
Kayangan indah bagai semakin menjauh tak tergapai
Ketika bulan mula jatuh…
Hilanglah fantasi menjengahlah reliti
Pohon subur rupanya tiada… Hanya bayangan dalam mimpi
Gumpalan awan rupanya terlalu tinggi… Hanya kelihatan tika mendongak
Kayangan indah rupanya ilusi… Hanya hadir dalam angan-angan panjang
Kasturi Muhamad
18 Julai 2012
0808 mlm
Desa
17 Julai, 2012
Beras dan Antah
Lihat dalam-dalam..
Dalam segantang beras, antah pasti ada
Di dalamnya berisi, di luar berkulit miang
Tak pernah punya harga
Antah tak pernah berguna
Antah membuang masa manusia
Perlu ditampi sebelum ditanak
Perlu dipilih saban hari
Andainya benar aku adalah antah
Dibuang ke tanah direbut ayam peliharaan
Dibuang ke paya, aku tumbuh berbuah lagi
Sebutir antah yang tumbuh di paya
Bila berbuah direbut pipit tepi belukar
Menebar antah di merata-rata
Tumbuh dan berbuah lagi
Jadi makanan burung-burung rimba
Walau ada jasanya antah
Namun manusia tetap serupa
Antah adalah sampah
Antah adalah pengacau
Antah hanya menyusahkan mereka
Antah sekadar padi tak bernilai
Antah akan sering dibuang
Apakah aku seperti antah?
Dalam segantang beras, antah pasti ada
Di dalamnya berisi, di luar berkulit miang
Tak pernah punya harga
Antah tak pernah berguna
Antah membuang masa manusia
Perlu ditampi sebelum ditanak
Perlu dipilih saban hari
Andainya benar aku adalah antah
Dibuang ke tanah direbut ayam peliharaan
Dibuang ke paya, aku tumbuh berbuah lagi
Sebutir antah yang tumbuh di paya
Bila berbuah direbut pipit tepi belukar
Menebar antah di merata-rata
Tumbuh dan berbuah lagi
Jadi makanan burung-burung rimba
Walau ada jasanya antah
Namun manusia tetap serupa
Antah adalah sampah
Antah adalah pengacau
Antah hanya menyusahkan mereka
Antah sekadar padi tak bernilai
Antah akan sering dibuang
Apakah aku seperti antah?
16 Julai, 2012
Bicara Malam
Sekali ngilu bergesel bambu di rumpun tebal
Rasanya antara sakit dan tidak
Peritnya bagai menikam-nikam.... dalam
Pedihnya tiada, rasanya tetap ada
Mencari di mana hitamnya senyum
Menelah di mana kaburnya catatan
Ingin berdiri tegak, namun masih bongkok
Ingin melagkah gagah, namun masih lemah
Catatan itu sedang menggigit perlahan-lahan
Bagai anai-anai mengutis tiang seri
Catatan itu sedang menolak lembut
Sedikit demi sedikit tapak nampak kukuh mula goyah
Pandang pada rembulan, nampak bintang berkerdip jauh
Ingin hulur tangan,sedar gapai tak mungkin sampai
Lelah nafas dibuai catatan mimpi-mimpi kelabu
Lesu kotak fikir di rayu catatan malam nengasyikkan
Tewas lantaran igauan panjang bersimpang siur
Mencari sesuatu dalam pengembaraan yang bisa binasa
Seluruh tubuh dibelit rantai-rantai longgar bisa putus
Pintu terbuka luas, namun langkah tidak tega
Segalanya sebuah perjalanan mencari sesuatu
Semuanya sehamparan baldu berkaca tajam
Menusuk telapak kaki, pedihnya berdenyut ke seluruh tubuh
Membelenggu setiap detik dalam lembaian asyik
Kasturi Muhamad
16 Julai 2012
Rasanya antara sakit dan tidak
Peritnya bagai menikam-nikam.... dalam
Pedihnya tiada, rasanya tetap ada
Mencari di mana hitamnya senyum
Menelah di mana kaburnya catatan
Ingin berdiri tegak, namun masih bongkok
Ingin melagkah gagah, namun masih lemah
Catatan itu sedang menggigit perlahan-lahan
Bagai anai-anai mengutis tiang seri
Catatan itu sedang menolak lembut
Sedikit demi sedikit tapak nampak kukuh mula goyah
Pandang pada rembulan, nampak bintang berkerdip jauh
Ingin hulur tangan,sedar gapai tak mungkin sampai
Lelah nafas dibuai catatan mimpi-mimpi kelabu
Lesu kotak fikir di rayu catatan malam nengasyikkan
Tewas lantaran igauan panjang bersimpang siur
Mencari sesuatu dalam pengembaraan yang bisa binasa
Seluruh tubuh dibelit rantai-rantai longgar bisa putus
Pintu terbuka luas, namun langkah tidak tega
Segalanya sebuah perjalanan mencari sesuatu
Semuanya sehamparan baldu berkaca tajam
Menusuk telapak kaki, pedihnya berdenyut ke seluruh tubuh
Membelenggu setiap detik dalam lembaian asyik
Kasturi Muhamad
16 Julai 2012
Ratu
Lenggok bicara manis kata
Meredah ruang tersembunyi yang dalam dan sepi
Menggamit angan yang hadir pada musim-musim bunga
Rempuh seluruh aku pada malam tak terjangka
Sungguh-sungguh tak pernah mengerti
Apakah ini adalah rasanya?
Atau hanya persinggahan sementara?
Seperti angin-angin yang selalu
Datang dan pergi tanpa sudi untuk singgah
Senyum ratu bangkit keliru di jiwa gelandangan cinta
Bagai merobek sekeping hati yang lama hilang
Umpama mencatas ranting-ranting mati hampir patah
Adakah maknanya untuk ratu?
Atau hanya untuk aku?
Bermain dengan kata sampai jiwa hilang tega
Menganyam janji sampai hilang sepi-sepi
Adakah itu memang realiti?
Hadir dari hati...
Senyum ratu bangkit keliru di jiwa gelandangan cinta
Bagai merobek sekeping hati yang lama hilang
Umpama mencatas ranting-ranting mati hampir patah
Adakah maknanya untuk ratu?
Atau hanya untuk aku?
Bermain dengan kata sampai jiwa hilang tega
Menganyam janji sampai hilang sepi-sepi
Adakah itu memang realiti?
Hadir dari hati...
Jauh
Sudah jauh aku mengembara
Mencari titik-titik sinar harapan
Sudah jenuh aku mengintai
Dalam relung waktu mencari kudus
Acapnya aku menjengah lembah
Kalau-kalau ada wangian mimpi
Hanya hampa menjadi teman
Sekadar masa menjarak diri
Sedang aku masih kekosongan
Dalam mimpi dan impian
Merentas selaut ilusi
Sering hadir bersama hakikat
Tika aku pulang
Ku lihat warna-warna indah di depan mata
Ada sinar mentari berwarna jingga
Yang ku kejar di kejauhan sana
Rupanya hanya di depan mata
Sedang menggamit aku yang buta
Waktu bayu menggigit tubuh
Senyum ayu rembulan mengambang
Menggoda hati ku berkalih memandang
Pesona aku terpaku kelu
Meruntun hati yang lama beku
Hadir rembulan penuh bermakna
Mencari titik-titik sinar harapan
Sudah jenuh aku mengintai
Dalam relung waktu mencari kudus
Acapnya aku menjengah lembah
Kalau-kalau ada wangian mimpi
Hanya hampa menjadi teman
Sekadar masa menjarak diri
Sedang aku masih kekosongan
Dalam mimpi dan impian
Merentas selaut ilusi
Sering hadir bersama hakikat
Tika aku pulang
Ku lihat warna-warna indah di depan mata
Ada sinar mentari berwarna jingga
Yang ku kejar di kejauhan sana
Rupanya hanya di depan mata
Sedang menggamit aku yang buta
Waktu bayu menggigit tubuh
Senyum ayu rembulan mengambang
Menggoda hati ku berkalih memandang
Pesona aku terpaku kelu
Meruntun hati yang lama beku
Hadir rembulan penuh bermakna
Bintang
Bintang
Berkerdip indah tika mega sembunyi
Mewarna malam tanpa purnama
Menjadi paduan nakhoda tersesat
Di lautan luas tak bertepi
Bintang
Ingin ku capai tangan tak sampai
Ingin ku usap, senyummu jauh
Ku cuba dekat kau semakin jauh
Kerdip bintang tetap berseri
Bintang
Mata ku terpaku pandang indah mu
Hati ku keliru ingin gapai mu
Aku tahu mimpi ku terlalu jauh
Aku sedar cita ku hanya ilusi...
Berkerdip indah tika mega sembunyi
Mewarna malam tanpa purnama
Menjadi paduan nakhoda tersesat
Di lautan luas tak bertepi
Bintang
Ingin ku capai tangan tak sampai
Ingin ku usap, senyummu jauh
Ku cuba dekat kau semakin jauh
Kerdip bintang tetap berseri
Bintang
Mata ku terpaku pandang indah mu
Hati ku keliru ingin gapai mu
Aku tahu mimpi ku terlalu jauh
Aku sedar cita ku hanya ilusi...
Kasih
Kasih...
Hadirmu bersama angin lalu
Membelah hatiku menjadi kaku
Terpesona dengan manis senyum mu
Terhibur dengan lapisan titip mu
Bicara mu termangu aku
Mencari di mana lagi kan ku temui
Kasih...
Temui kamu aku keliru
Sapanmu menggoda rasa
Untuk aku mengulangi waktu
Kembali merindu seperti dulu
Jiwaku meronta ingin tahu
Kasih...
Beredar detik berganti saat
Terbelah hati menjadi dua
Membelai jiwa mula girang
Benih usang kembali bertunas
Memberi kasih kepada kekasih
Kasih...
Riakmu soalan buat ku
Apakah ada waktu-waktu aku
Bersama mengulit mimpi-mimpi
Bersatu menganyam rasa-rasa
Di lembayung waktu kita bersama
Hadirmu bersama angin lalu
Membelah hatiku menjadi kaku
Terpesona dengan manis senyum mu
Terhibur dengan lapisan titip mu
Bicara mu termangu aku
Mencari di mana lagi kan ku temui
Kasih...
Temui kamu aku keliru
Sapanmu menggoda rasa
Untuk aku mengulangi waktu
Kembali merindu seperti dulu
Jiwaku meronta ingin tahu
Kasih...
Beredar detik berganti saat
Terbelah hati menjadi dua
Membelai jiwa mula girang
Benih usang kembali bertunas
Memberi kasih kepada kekasih
Kasih...
Riakmu soalan buat ku
Apakah ada waktu-waktu aku
Bersama mengulit mimpi-mimpi
Bersatu menganyam rasa-rasa
Di lembayung waktu kita bersama
Senyum
Senyum indah bagai bunga
Di dalam hati sering bertanya
Ikhlasnya ada di mana?
Sedekahnya benarkah sedekah?
Atau hanya penyeri bibir
Atau sekadar peneman rakan
Senyum siang
Malamnya adakah senyum
Atau lara menghimpit dalam sepi
Juga pahit mendamping diri
Melayar kisah sendiri
Mencari noktah duka
Senyum pagi
Segar sedingin kabut
Membungkus rahsia ibu rahsia
Sembunyi rasa dalam tawa
Senyum pengubat duka teman
Senyum penyeri ruang hitam
Senyum
Manis dalam pahit
Pahit dalam duka
Duka dalam lara
Manis dalam manis
Di dalam hati sering bertanya
Ikhlasnya ada di mana?
Sedekahnya benarkah sedekah?
Atau hanya penyeri bibir
Atau sekadar peneman rakan
Senyum siang
Malamnya adakah senyum
Atau lara menghimpit dalam sepi
Juga pahit mendamping diri
Melayar kisah sendiri
Mencari noktah duka
Senyum pagi
Segar sedingin kabut
Membungkus rahsia ibu rahsia
Sembunyi rasa dalam tawa
Senyum pengubat duka teman
Senyum penyeri ruang hitam
Senyum
Manis dalam pahit
Pahit dalam duka
Duka dalam lara
Manis dalam manis
Di Sebalik Senyum
Aku tahu...
Di sebalik senyum ku
Di sebalik tawa ku
Ada yang menanti
Ada yang hiba
Ada yang terasa
Ada semuanya...
Namun aku...
Punya diri
Paksaan ingin
Lindung angin
Hati samar
Aku penyiksa
Bukan siapa
Pergi...
Pergi segera
Aku begini
Sedarlah...
Takkan berlaku
Takkan kembali
Pergilah jauh...
Demi hidupmu...
Di sebalik senyum ku
Di sebalik tawa ku
Ada yang menanti
Ada yang hiba
Ada yang terasa
Ada semuanya...
Namun aku...
Punya diri
Paksaan ingin
Lindung angin
Hati samar
Aku penyiksa
Bukan siapa
Pergi...
Pergi segera
Aku begini
Sedarlah...
Takkan berlaku
Takkan kembali
Pergilah jauh...
Demi hidupmu...
Gerimis Pagi
Gerimis pagi…
Lembut memutih baldunya, hadir bersama angin
Menyapa tubuh, menghalau bahang panasnya bara
Dinginnya memujuk pilu jiwa perwira yang dilupa
Menghampar selautan damai pada rintik di hujung rumput
Diiringi gemersik titis pada rumpun buluh layu
Gerimis pagi itu…
Putihnya idaman hamba-hamba yang terkurung
Dalam penjara hati yang lama kaku membatu
Derita sakit lantaran patahnya tiang seri
Tersiksa pedih lantaran disiat belati emas
Hilang arah lantaran layu bunga di taman
Gerimi pagi ini…
Sarat dengan makna-maknanya
Titisnya condong merentak irama-irama indah
Sapanya berdesir diiringi angin sopan menusuk tubuh
Menyiram bara-bara menjadi lukisan-lukisan alam
Indah dan mengayikkan…
Gerimis pagi aku…
Turun tika aku tersesat di tanah lapang
Menitis membasuh sisa-sisa kotoran lalu
Hanyutkan memori ke liku-liku sungai keruh
Ronanya bertukar jenih dan bersih
Bersinar membias tika mentari menyuluh
Kasturi Muhamad
4 Julai 2012
Desa
Lembut memutih baldunya, hadir bersama angin
Menyapa tubuh, menghalau bahang panasnya bara
Dinginnya memujuk pilu jiwa perwira yang dilupa
Menghampar selautan damai pada rintik di hujung rumput
Diiringi gemersik titis pada rumpun buluh layu
Gerimis pagi itu…
Putihnya idaman hamba-hamba yang terkurung
Dalam penjara hati yang lama kaku membatu
Derita sakit lantaran patahnya tiang seri
Tersiksa pedih lantaran disiat belati emas
Hilang arah lantaran layu bunga di taman
Gerimi pagi ini…
Sarat dengan makna-maknanya
Titisnya condong merentak irama-irama indah
Sapanya berdesir diiringi angin sopan menusuk tubuh
Menyiram bara-bara menjadi lukisan-lukisan alam
Indah dan mengayikkan…
Gerimis pagi aku…
Turun tika aku tersesat di tanah lapang
Menitis membasuh sisa-sisa kotoran lalu
Hanyutkan memori ke liku-liku sungai keruh
Ronanya bertukar jenih dan bersih
Bersinar membias tika mentari menyuluh
Kasturi Muhamad
4 Julai 2012
Desa
Mimpi Sekali
Mimpi sekali…
Datangnya bersama angin kering padang pasir
Tika aku terduduk kehausan di bawah renik kecil
Diiringi rebut pasir yang menyerap terus ke dalam hidung
Bahangnya panas kering memeritkan
Seperit hidupku semalam
Tiba-tiba kau hadir…
Menoleh sekali lalu ukirkan senyum penuh makna
Selubung kepalamu berwarna putih bersih
Langsung tak berbekas walau pasir membias
Rerambut di dagumu bersih dan panjang
Wajahmu berseri cahaya, tiada tandingan di bumi ini
Tika aku masih terpaku…
Kau berlalu tinggalkan seribu persoalan
Aku tahu ,itu kau yang sebenar
Kerna naluriku terlalu kuat merasa
Kerna ada kuasa yang memberikan aku makna
Aku pasti, itu kelibat mu
Selepas kau menghilang…
Ku buka helaian-helaian fikirku
Yang lama dan tersimpan dalam memori sendiri
Ku salami diri sedalam-dalamnya
Aku cari aku, di manakah aku
Aku sedar aku terlalu jauh
Aku tahu…
Aku perlu mula melangkah
Mengembara mencari hakiki
Menyusur setiap denai dan lorong
Katika aku tersesat dulu
Untuk kembali ke tepat asalku
Aku sedar…
Lorong-lorong itu perlu ku tinggalkan
Nota panjang itu perlu ku bakar segera
Biar jadi abu, jangan langsung tinggal arang
Biar terus hilang, jangan langsung ada sisa
Biar hanya aku sendiri, tanpa nota-nota itu
Aku mengeriti…
Mimpi itu adalah tanda untuk aku
Kehadiranmu adalah amaran untuk aku
Aku bersyukur
Kerna masih ada hari untuk aku
Kerana masih ada kasih untuk aku
Kasturi Muhamad
2 Julai 2012
9:50 PM
Desa
Datangnya bersama angin kering padang pasir
Tika aku terduduk kehausan di bawah renik kecil
Diiringi rebut pasir yang menyerap terus ke dalam hidung
Bahangnya panas kering memeritkan
Seperit hidupku semalam
Tiba-tiba kau hadir…
Menoleh sekali lalu ukirkan senyum penuh makna
Selubung kepalamu berwarna putih bersih
Langsung tak berbekas walau pasir membias
Rerambut di dagumu bersih dan panjang
Wajahmu berseri cahaya, tiada tandingan di bumi ini
Tika aku masih terpaku…
Kau berlalu tinggalkan seribu persoalan
Aku tahu ,itu kau yang sebenar
Kerna naluriku terlalu kuat merasa
Kerna ada kuasa yang memberikan aku makna
Aku pasti, itu kelibat mu
Selepas kau menghilang…
Ku buka helaian-helaian fikirku
Yang lama dan tersimpan dalam memori sendiri
Ku salami diri sedalam-dalamnya
Aku cari aku, di manakah aku
Aku sedar aku terlalu jauh
Aku tahu…
Aku perlu mula melangkah
Mengembara mencari hakiki
Menyusur setiap denai dan lorong
Katika aku tersesat dulu
Untuk kembali ke tepat asalku
Aku sedar…
Lorong-lorong itu perlu ku tinggalkan
Nota panjang itu perlu ku bakar segera
Biar jadi abu, jangan langsung tinggal arang
Biar terus hilang, jangan langsung ada sisa
Biar hanya aku sendiri, tanpa nota-nota itu
Aku mengeriti…
Mimpi itu adalah tanda untuk aku
Kehadiranmu adalah amaran untuk aku
Aku bersyukur
Kerna masih ada hari untuk aku
Kerana masih ada kasih untuk aku
Kasturi Muhamad
2 Julai 2012
9:50 PM
Desa
Seruling Bambu
Merdu suara seruling bambu buatan bomoh jiwa
Berhantu menusuk sanubari tiap-tiap telinga yang mendengar
Sayup-sayup bunyinya bagai bawa ajaib penarik tangkai hati
Melodi-melodinya bagai mengundang gerimis yang panjang
Menyusup jauh ke tengah belantara magical kewarasan minda
Merentap mati rasa mengundang nyawa baru seorang pengemis
Canggung tengah sungai tiba-tiba berhenti di deras air jeram
Magikalnya menggamit diri untuk hampir tapi tak sampai
Bagai ada dendangan hatif…
Melurut jiwa-jiwa yang dahaga rimbunan-rimbunan mimpi
Untuk mengejar ke kejauhan yang entah di mana
Juga mencari abadi yang entah bagaimana
Hanya detik waktu bisa cerita realiti pencarian yang jauh
Pasti tak terjangkau kotak fikir sempit yang sering bercelaru
Mendendang lalu iringan seruling bambu bomoh jiwa.
Kasturi Muhamad
Desa
1 Julai 2012
7:35 Malam
Berhantu menusuk sanubari tiap-tiap telinga yang mendengar
Sayup-sayup bunyinya bagai bawa ajaib penarik tangkai hati
Melodi-melodinya bagai mengundang gerimis yang panjang
Menyusup jauh ke tengah belantara magical kewarasan minda
Merentap mati rasa mengundang nyawa baru seorang pengemis
Canggung tengah sungai tiba-tiba berhenti di deras air jeram
Magikalnya menggamit diri untuk hampir tapi tak sampai
Bagai ada dendangan hatif…
Melurut jiwa-jiwa yang dahaga rimbunan-rimbunan mimpi
Untuk mengejar ke kejauhan yang entah di mana
Juga mencari abadi yang entah bagaimana
Hanya detik waktu bisa cerita realiti pencarian yang jauh
Pasti tak terjangkau kotak fikir sempit yang sering bercelaru
Mendendang lalu iringan seruling bambu bomoh jiwa.
Kasturi Muhamad
Desa
1 Julai 2012
7:35 Malam
Cerita Di Rimba Harapan
Cerita di rimba harapan
Rimba rinduku berbunga layu
lorong itu terlalu kelam dan sepi
Aku melangkah berbekal kasih lama
Bayangmu tiada…
Belum sempat ku untai kata cinta dan harapan
Belum pernah ku nikmati indahnya musim luruh
Bunga harapan kabur dan gersang
Gelora lautan kasih kita tak panjang
Dilambung ombak terus singgah di pantai seberang
Hanya camar tahu kau di mana
Hanya desiran angin tahu sepinya jiwaku
Bersulam nada pilu rindukan senyum semalam
Janjimu ku tanam utuh dalam jiwa
Tika kita bermadu rindu di denai itu
Tika kita menganyam kasih di belantara itu
Aku termangu dibuai bayu semalam
Derasnya air jeram cerita kacau jiwa ini
Kencangnya angin itu cerita luluh hati ini
Aku lihat lambaian terakhirmu
Kau pergi dengan senyuman
Tinggalkan aku penuh persoalan
Rimba menyepi…
Bertebaran bunga-bunga gugur
Bagai menjengah aku yang ketandusan maya
Kicau burung-burung itu bagai sedang ketawakan aku
Musim telah berganti, namun aku masih setia
Mananti kasih yang kudamba selalu
Mununggu rindu sepanjang waktu
KASTURI MUHAMAD
17 JUNE 2012
00:25
Rimba rinduku berbunga layu
lorong itu terlalu kelam dan sepi
Aku melangkah berbekal kasih lama
Bayangmu tiada…
Belum sempat ku untai kata cinta dan harapan
Belum pernah ku nikmati indahnya musim luruh
Bunga harapan kabur dan gersang
Gelora lautan kasih kita tak panjang
Dilambung ombak terus singgah di pantai seberang
Hanya camar tahu kau di mana
Hanya desiran angin tahu sepinya jiwaku
Bersulam nada pilu rindukan senyum semalam
Janjimu ku tanam utuh dalam jiwa
Tika kita bermadu rindu di denai itu
Tika kita menganyam kasih di belantara itu
Aku termangu dibuai bayu semalam
Derasnya air jeram cerita kacau jiwa ini
Kencangnya angin itu cerita luluh hati ini
Aku lihat lambaian terakhirmu
Kau pergi dengan senyuman
Tinggalkan aku penuh persoalan
Rimba menyepi…
Bertebaran bunga-bunga gugur
Bagai menjengah aku yang ketandusan maya
Kicau burung-burung itu bagai sedang ketawakan aku
Musim telah berganti, namun aku masih setia
Mananti kasih yang kudamba selalu
Mununggu rindu sepanjang waktu
KASTURI MUHAMAD
17 JUNE 2012
00:25
Di Dasar Hati
Terdampar aku di dasar cintamu
Mengalun melodi lagu rindu tika kita masih belayar di lautan rasa
Haruskah aku terus mengejar rintik-rintik halus yang mengekormu
Atau bisakah aku menggapai warna-warna indah yang pernah kita lukiskan dulu
Seperti tika kita berpesta ria di denai harapan yang kita cari bersama
Menyusun rasa-rasa dalam jiwa menjadi cinta agung lalu bersatu
Antara rindu, kasih,shahdu dan keliru, kita gabung jadi cinta asyik
Antara mimpi dan impian, kita cantum jadikan lambang perjanjian itu
Pengertiannya sangat dalam… Sedalam lautan cinta yang bergelora
Tika kau terbang bersama arakan mega yang kelabu
Ku laung namamu sekuat hati… namun suaraku tak kedengaran
Kutarik tangan mu… namun jangkauanku tak sampai
Kau terlalu jauh…
Aku tertunduk layu… Hanya bisikan-bisikan kenangan menjadi teman
Hanya desah nafas mu dulu menjadi azimat jiwa yang meronta pedih
Kau pergi bersama angin lalu yang tidak pernah singgah di dataran ini
Tanpa kau menoleh ke arahku yang menanti kepastian
Langsung menghilang di celah-celah birai hidupku yang gersang
Rinduku melayari mimpi… Panjang dan bercelaru
Wajahmu sering bermain dalam khayalan malam-malam aku
Senyum seulas bibirmu tinggalkan manisan-manisan hampa
Lembut belaian jemarimu tanda luluh sekeping hati yang lara
Segalanya kehancuran…
Hati yang berbunga, tiba-tiba mati membatu
Mata yang bersinar, tiba-tiba kelam dan buta
Jiwa hilang kesegaran…
Aku tahu…
Tak bisa lagi ku ulangi saat-saat itu
Hadirnya sekali cuma…
Rantaian yang putus itu tak mungkin bisa disambung lagi
Aku sedar….
Hadirmu sekadar persinggahan sementara
Ketika kau sedang mencari pengertian untuk dirimu
Tamanku terlalu tandus untuk kau terus di sini
Aku pasrah…
Mengalun melodi lagu rindu tika kita masih belayar di lautan rasa
Haruskah aku terus mengejar rintik-rintik halus yang mengekormu
Atau bisakah aku menggapai warna-warna indah yang pernah kita lukiskan dulu
Seperti tika kita berpesta ria di denai harapan yang kita cari bersama
Menyusun rasa-rasa dalam jiwa menjadi cinta agung lalu bersatu
Antara rindu, kasih,shahdu dan keliru, kita gabung jadi cinta asyik
Antara mimpi dan impian, kita cantum jadikan lambang perjanjian itu
Pengertiannya sangat dalam… Sedalam lautan cinta yang bergelora
Tika kau terbang bersama arakan mega yang kelabu
Ku laung namamu sekuat hati… namun suaraku tak kedengaran
Kutarik tangan mu… namun jangkauanku tak sampai
Kau terlalu jauh…
Aku tertunduk layu… Hanya bisikan-bisikan kenangan menjadi teman
Hanya desah nafas mu dulu menjadi azimat jiwa yang meronta pedih
Kau pergi bersama angin lalu yang tidak pernah singgah di dataran ini
Tanpa kau menoleh ke arahku yang menanti kepastian
Langsung menghilang di celah-celah birai hidupku yang gersang
Rinduku melayari mimpi… Panjang dan bercelaru
Wajahmu sering bermain dalam khayalan malam-malam aku
Senyum seulas bibirmu tinggalkan manisan-manisan hampa
Lembut belaian jemarimu tanda luluh sekeping hati yang lara
Segalanya kehancuran…
Hati yang berbunga, tiba-tiba mati membatu
Mata yang bersinar, tiba-tiba kelam dan buta
Jiwa hilang kesegaran…
Aku tahu…
Tak bisa lagi ku ulangi saat-saat itu
Hadirnya sekali cuma…
Rantaian yang putus itu tak mungkin bisa disambung lagi
Aku sedar….
Hadirmu sekadar persinggahan sementara
Ketika kau sedang mencari pengertian untuk dirimu
Tamanku terlalu tandus untuk kau terus di sini
Aku pasrah…
Perhentian
Di satu perhentian
Aku mendakap erat riak hati yang mengharukan
Yang datang bersama rimbunan-rimbunan rasa penuh gelora
Bersama desiran angin rindu yang menyapa lembut
Menyegarkan jiwa yang hilang dalam kesatan
Di perhentian semalam
Aku mencari sekarung kenangan yang ku tinggalkan dulu
Mahu menganyam menjadi hamparan harapan yang abadi
Mahu lena diulit mimpi-mimpi nyata yang punya pengertian
Mahu bangun dengan senyum tawa yang punya keikhlasan
Di perhentian ini
Kususun bilah-bilah sejarah menjadi simpulan-sipulan senyuman
Menanti hari-hari yang damai di lubuk hati yang hakiki
Marangkum kasih-kasih tertinggal dalam lelah nafas bersisa
Perhentian ini berikan seribu makna... Beterbangan bebas.
Aku mendakap erat riak hati yang mengharukan
Yang datang bersama rimbunan-rimbunan rasa penuh gelora
Bersama desiran angin rindu yang menyapa lembut
Menyegarkan jiwa yang hilang dalam kesatan
Di perhentian semalam
Aku mencari sekarung kenangan yang ku tinggalkan dulu
Mahu menganyam menjadi hamparan harapan yang abadi
Mahu lena diulit mimpi-mimpi nyata yang punya pengertian
Mahu bangun dengan senyum tawa yang punya keikhlasan
Di perhentian ini
Kususun bilah-bilah sejarah menjadi simpulan-sipulan senyuman
Menanti hari-hari yang damai di lubuk hati yang hakiki
Marangkum kasih-kasih tertinggal dalam lelah nafas bersisa
Perhentian ini berikan seribu makna... Beterbangan bebas.
Misteri Bakawali
Tika malam tenang...
Hadir haruman bakawali bersama bayu lembut
Menyapa ruang hidu penuh sopan dan perlahan
Sayup-sayup di hujung nafas... Antara rasa dan tidak
Segar aromanya bagai segar hembusan nafas dini
Mengundang Misteri-misteri kepercayaan lama
Mebawa bersama rindu-rindu si tua dahulu kala
Senyuman berkerut penuh ilmu di dada
Ingat pesan mu... Bakawali itu Melayu
Amal mantera mu... Kebal tubuh kebal jiwa
Ikut langkah mu... Walau jauh pulang jua
Dan padang kita selalunya hijau
Bakawaliku...
Kasturi muhamad
20 Jun 2012
Hadir haruman bakawali bersama bayu lembut
Menyapa ruang hidu penuh sopan dan perlahan
Sayup-sayup di hujung nafas... Antara rasa dan tidak
Segar aromanya bagai segar hembusan nafas dini
Mengundang Misteri-misteri kepercayaan lama
Mebawa bersama rindu-rindu si tua dahulu kala
Senyuman berkerut penuh ilmu di dada
Ingat pesan mu... Bakawali itu Melayu
Amal mantera mu... Kebal tubuh kebal jiwa
Ikut langkah mu... Walau jauh pulang jua
Dan padang kita selalunya hijau
Bakawaliku...
Kasturi muhamad
20 Jun 2012
Warna-warna Senja
Tika ombak masih gagah menghentam pantai
Di ufuk sana warnanya indah bagai lukisan
Menggoda setiap hati seni... Sungguh terpesona
Cerita-cerita seribu jiwa satu jasad kaku
Kisahnya berkias pilu kerna terasa... Juga merasa
Bisa terus termangu dengan lolongan gila
Sedang bisa juga terus berlalu dari lolongan menyakitkan
Apa semuanya itu...?
Sekadar kata atau lahir dari jiwa?
Gumpalan-gumpalan dendam, atau hakikat hati?
Rintik-rintik seteru atau memang seteru?
Warna-warna itu terlalu banyak cerita
Aku kaku mencari jawapan nyata
Apa aku di sini sekadar itu?
Apa relung kalbuku sesempit ruang?
Segalanya kabur dan kelabu
Tidak pasti di mana nanti...
Tidak tertelah apa lagi nanti...
Hanya berharap sesuatu
Sedang tahu tiada nilainya
Hanya memuja tunggul kaku
Untuk tatapan mata yang buta...
Memang bererti...
Kasturi Muhamad
Di ufuk sana warnanya indah bagai lukisan
Menggoda setiap hati seni... Sungguh terpesona
Cerita-cerita seribu jiwa satu jasad kaku
Kisahnya berkias pilu kerna terasa... Juga merasa
Bisa terus termangu dengan lolongan gila
Sedang bisa juga terus berlalu dari lolongan menyakitkan
Apa semuanya itu...?
Sekadar kata atau lahir dari jiwa?
Gumpalan-gumpalan dendam, atau hakikat hati?
Rintik-rintik seteru atau memang seteru?
Warna-warna itu terlalu banyak cerita
Aku kaku mencari jawapan nyata
Apa aku di sini sekadar itu?
Apa relung kalbuku sesempit ruang?
Segalanya kabur dan kelabu
Tidak pasti di mana nanti...
Tidak tertelah apa lagi nanti...
Hanya berharap sesuatu
Sedang tahu tiada nilainya
Hanya memuja tunggul kaku
Untuk tatapan mata yang buta...
Memang bererti...
Kasturi Muhamad
Tangisan
Bergelora lagi...
Tangis si kecil itu hatinya luka
Tangis ibu meraung cintakan bapa
Gugur lantaran zalimnya manusia
Tiada belas, tiada kasihan
Tidak berhati, berjiwa binatang
Saban hari...
Darah Syuhada mengalir hanyir
Membasah bumi suci
Menghampar setiap inci kontang padang pasir
Ibu hilang suami, anak hilang bapa
Meraung penuh dendam kesumat mendalam
Mahu melawan, daya tidak pernah ada
Melawan juga, gugur pula
Perjuangan panjang itu bila noktahnya
Di sini senyuman mekar, di sana senyum tiada
Hanya dendam dan aiar mata
Menaburi bumi suci rebutan semua
Tangis si kecil itu hatinya luka
Tangis ibu meraung cintakan bapa
Gugur lantaran zalimnya manusia
Tiada belas, tiada kasihan
Tidak berhati, berjiwa binatang
Saban hari...
Darah Syuhada mengalir hanyir
Membasah bumi suci
Menghampar setiap inci kontang padang pasir
Ibu hilang suami, anak hilang bapa
Meraung penuh dendam kesumat mendalam
Mahu melawan, daya tidak pernah ada
Melawan juga, gugur pula
Perjuangan panjang itu bila noktahnya
Di sini senyuman mekar, di sana senyum tiada
Hanya dendam dan aiar mata
Menaburi bumi suci rebutan semua
Sepi
Sepi satu malam panjang
mengheret aku ke lembah resah
Gelisah yang tiada penghujung
Menanti gugurnya kuntuman rasa
Dari dahan mimpi mengasyikkan
Aku kaku... Sendiri merasa
Perginya dia tanpa suara
Hilangnya dia penuh misteri
Aku tercari-cari...
Di mana gerangannya kamu
Aku tak pasti apakah esok ada
Bersama memintal janji-janji
Menjadi senyuman riang
punya erti...
mengheret aku ke lembah resah
Gelisah yang tiada penghujung
Menanti gugurnya kuntuman rasa
Dari dahan mimpi mengasyikkan
Aku kaku... Sendiri merasa
Perginya dia tanpa suara
Hilangnya dia penuh misteri
Aku tercari-cari...
Di mana gerangannya kamu
Aku tak pasti apakah esok ada
Bersama memintal janji-janji
Menjadi senyuman riang
punya erti...
Bisikan
Bisikan bayu menegurku lagi
Lembut dan dingin menggigit setiap rasa
Saat rindu hadirnya purnama mimpi
Meruntun debar di dada pengemis kasih
Dalam ruang sempit cinta halus mekarnya
Melirik manja minta pengertian dari segunung resah
Kau bidadari ku...
Hadirmu bagai sungai yang mengalir
Bawa bersama pasir-pasir putih suci
Sesuci melodi cinta dan tarian rindu
Lembut dan dingin menggigit setiap rasa
Saat rindu hadirnya purnama mimpi
Meruntun debar di dada pengemis kasih
Dalam ruang sempit cinta halus mekarnya
Melirik manja minta pengertian dari segunung resah
Kau bidadari ku...
Hadirmu bagai sungai yang mengalir
Bawa bersama pasir-pasir putih suci
Sesuci melodi cinta dan tarian rindu
Musim
Cerita suatu musim panas yang mengasyikkan
Tika aku melangkah menikmati warna senja, kulihat ayu depan mata
Tika hati damai kesegaran di pantai harapan...
Senyum Irina terukir bawa bahagia
Lalu kusapa lembut. Selembut bayu tika itu
Sebaris kata bawa kita ke ruang luas
Seulas senyum bawa kita ke lubuk bahagia
Yang sukar dicari ganti...
Irina, biar berbeda jarak dan waktu, aku juga sepertimu
Cinta yang kau beri kuiring dengan kudus hati
Kasih yang kau bawa, aku balas dengan rindu amat dalam
Kerna aku tahu, kita punya lambang cinta kita
Kerna ku sedar, kita punya bukti cinta kita
Biar kau di kejauhan, namun cinta semusim itu tetap segar
Sesegar air jeram kita dulu
Jeram milik kau dan aku
Ketahuilah sayang bahawa aku sering merindu... Seperti titipanku selalu
Satu masa, jika ada saatnya, kita kan bertemu lagi
Menganyam kasih suci kita seperti selalu
Memintal rindu padu kita seperti semalam
Tika aku melangkah menikmati warna senja, kulihat ayu depan mata
Tika hati damai kesegaran di pantai harapan...
Senyum Irina terukir bawa bahagia
Lalu kusapa lembut. Selembut bayu tika itu
Sebaris kata bawa kita ke ruang luas
Seulas senyum bawa kita ke lubuk bahagia
Yang sukar dicari ganti...
Irina, biar berbeda jarak dan waktu, aku juga sepertimu
Cinta yang kau beri kuiring dengan kudus hati
Kasih yang kau bawa, aku balas dengan rindu amat dalam
Kerna aku tahu, kita punya lambang cinta kita
Kerna ku sedar, kita punya bukti cinta kita
Biar kau di kejauhan, namun cinta semusim itu tetap segar
Sesegar air jeram kita dulu
Jeram milik kau dan aku
Ketahuilah sayang bahawa aku sering merindu... Seperti titipanku selalu
Satu masa, jika ada saatnya, kita kan bertemu lagi
Menganyam kasih suci kita seperti selalu
Memintal rindu padu kita seperti semalam
Sebuah Pencarian Panjang
Berteleku aku merenung laut biru berombak putih
Mencari diri, siapa gerangannya aku
Menyelusuri hari silam yang penuh warna
Merungkai hala yang selama ini menghilang
Merentas masa yang selalunya aku kerugian
Membenih cinta pada jiwa yang lama hilang
Aku berdiri... memerhati liuk lentok pepohon kelapa
Ditiup angin petang berwarna merah bagai berdarah
Meruntun rasa kepingin ingin terus ke sana
Menggapai mimpi-mimpi ku itu
Bukan mimpi biasa, tapi mimpi penuh misteri
Bukan mimpi manusia, tapi mimpi kehidupan azali
Aku melangkah menyusun langkah perlahan
Memandang ke depan kulihat ada cebisan cahaya
Merenung ke seberang kulihat ada titipan damai
Ingin ku gapai sinar jauh cahaya
Ingin kumiliki dalamnya lautan damai
Sepanjang hidup, inilah pencariannya.
Mencari diri, siapa gerangannya aku
Menyelusuri hari silam yang penuh warna
Merungkai hala yang selama ini menghilang
Merentas masa yang selalunya aku kerugian
Membenih cinta pada jiwa yang lama hilang
Aku berdiri... memerhati liuk lentok pepohon kelapa
Ditiup angin petang berwarna merah bagai berdarah
Meruntun rasa kepingin ingin terus ke sana
Menggapai mimpi-mimpi ku itu
Bukan mimpi biasa, tapi mimpi penuh misteri
Bukan mimpi manusia, tapi mimpi kehidupan azali
Aku melangkah menyusun langkah perlahan
Memandang ke depan kulihat ada cebisan cahaya
Merenung ke seberang kulihat ada titipan damai
Ingin ku gapai sinar jauh cahaya
Ingin kumiliki dalamnya lautan damai
Sepanjang hidup, inilah pencariannya.
Pelarian
randuk duri...
Berselirat antara denai sempit
Rempuh berdarah merah pekat
Berbisa pedih...
Ingin mengundur namun tega
Ingin menyerah, kudrat masih ada
Rempuh reba...
Ciptaan sendiri
Mahu lari
Langkah perlahan
Mahu duduk
Hamparan hilang
Mahu pangkas
Parang tiada
Dusta segalanya
Bukan senyum
benar senyum....
Berselirat antara denai sempit
Rempuh berdarah merah pekat
Berbisa pedih...
Ingin mengundur namun tega
Ingin menyerah, kudrat masih ada
Rempuh reba...
Ciptaan sendiri
Mahu lari
Langkah perlahan
Mahu duduk
Hamparan hilang
Mahu pangkas
Parang tiada
Dusta segalanya
Bukan senyum
benar senyum....
Senja
merangkak pada senja merah di ufuk
Merantai jiwa pada kasih yang lama hilang
Hadir rasa bersama selautan harapan
Memintal benih-benih menjaadi kasih kudus
Mengalun bait-bait indah menjadi rindu
Kau dan aku tahu....
Kita di ambang kasih mendalam
Mendung semalam kita tinggalkan jauh
Biarkan hanyut bersama ombak menggila
Kita buah-buah indah meranum
Jadikan bekal di jalan depan
Juga benteng kebal melayari bahtera...
Merantai jiwa pada kasih yang lama hilang
Hadir rasa bersama selautan harapan
Memintal benih-benih menjaadi kasih kudus
Mengalun bait-bait indah menjadi rindu
Kau dan aku tahu....
Kita di ambang kasih mendalam
Mendung semalam kita tinggalkan jauh
Biarkan hanyut bersama ombak menggila
Kita buah-buah indah meranum
Jadikan bekal di jalan depan
Juga benteng kebal melayari bahtera...
Semusim Gerimis
Tika semusim gerimis itu datang
Bersama aura-auranya sendiri
Dingin menggigit ke tulang hitam
Membasahi seluruh hati dan jiwa terpenjara
Dalam lembah noda tiada penghujung
Dalam laut gelora yang menakutkan
Bayu lembut bertukar ribut ganas penuh dendam
Merobek segenap rasa yang terpendam di dalam
Merengkuh keras tiap tubuh gagah yang berdiri
Tanpa belas ihsan... Tanpa peduli rayu-rayuan
Ia tetap mengopak setiap garis-garis luka lama
Sehingga akhirnya..
Bersama aura-auranya sendiri
Dingin menggigit ke tulang hitam
Membasahi seluruh hati dan jiwa terpenjara
Dalam lembah noda tiada penghujung
Dalam laut gelora yang menakutkan
Bayu lembut bertukar ribut ganas penuh dendam
Merobek segenap rasa yang terpendam di dalam
Merengkuh keras tiap tubuh gagah yang berdiri
Tanpa belas ihsan... Tanpa peduli rayu-rayuan
Ia tetap mengopak setiap garis-garis luka lama
Sehingga akhirnya..
Langgan:
Ulasan (Atom)